RSS

November Rain


Aku kembali menikmati secangkir moccacino hangat disudut ruangan. Diruang yang sama di café ini, dimana aku melihatnya menyanyi. Dengan suasana yang tak berbeda ketika waktu itu, hujan rintik rintik. Disudut inilah aku bisa melihat sosoknya dengan jelas. Di sudut ini pula aku menikmati alunan nada melalui gitar yang dia mainkan dan suara merdu yang tak pernah aku lupakan. 


---***---
“Ada yang mau request lagu?” sebuah suara membuyarkan lamunanku.
Request lagu? Aku tertawa dalam hati. Sombong sekali lelaki dihadapanku. Apa dia bisa menyanyikan semua jenis lagu? Kalau begitu aku ingin request.

“November Rain bisa?” seruku dari sudut ruangan itu.

“Hmmm…ok. Bisa, Mbak” jawabnya kala itu dengan penuh keyakinan.

When i look into your eyes, I can see love restrained
But darling when I hold you, don’t you know I feel the same

November Rain mengalun merdu dari bibirnya. Boleh juga, pikirku dalam hati. Sekilas aku melirik, diluar sana, hujan masih rintik rintik. Suara merdunya membuatku tak mau beranjak dari café ini. Aku kembali melayangkan pandangan kepadanya. Sosok yang tampan ditambah dengan suara yang bagus. Aku yakin banyak gadis yang mendekatinya.

“Ada yang mau request lagi?”tanyanya lagi.

Aku tak sadar jika lagu yang ku minta sudah selesai dia nyanyikan. Beberapa menit kemudian sebuah lagu mengalun dari bibirnya. Semakin malas aku untuk beranjak pergi. Menikmati cappuccino sembari mendengarkan alunan indahnya, cukup untuk menghilangkan penat karena tugas kuliah yang menumpuk. Kulirik jam di tanganku. Tak terasa sudah lama aku ditempat ini. Aku memutuskan untuk pulang. Sebelum aku keluar, ku lirik lelaki itu. Dan pada saat yang bersamaan, dia melihatku dan melambaikan tangan ke arahku. Sial, kenapa aku deg degan gini. 




---***---
Sejak saat itu, aku tak pernah absen untuk berkunjung ke café itu. Tentu saja karena ingin melihatnya dan mendengarkan suara indahnya. Pertemuan demi pertemuan di café itu membuatku semakin akrab dengan penyanyi tampan itu. Bahkan tak jarang aku habiskan waktu bersamanya ditempat lain. Sekedar bercerita tentang diri kita masing-masing ataupun karaoke bersama.


“Kemarin aku merekam suaraku. Aku ingin memberikan pada salah satu produser. Semoga prosuder itu tertarik” ujarnya malam itu.

“Suaramu indah, enak didengar. Kenapa tidak kau coba mengikuti kontes menyanyi saja” tanyaku 

“Hahaha… Aku sudah pernah mencobanya. Namun tak berhasil. Mungkin suaraku tidak cocok dengan selera mereka. Tapi aku yakin suatu hari nanti aku akan menjadi penyanyi yang terkenal”

“Akan aku doakan, Bint…”

Begitulah. Aku dan dia saling mendukung. Terus terang, sejak saat itu aku menyukainya. Entahlah, bagaimana dengannya. Aku tak tahu karena tak mungkin aku bertanya padanya. Akibatnya, aku selalu bertanya dalam hati tentang perasaannya, tentang sikapnya selama ini. Sukakah? Atau hanya perasaanku saja yang berlebihan. Entahlah…

“Aku ingin secepatnya bertemu dengan produser itu, Lan!”

“Wah aku semakin tak sabar melihatmu bernyanyi di televisi, menjadi selebritis!”

“Selebritis? Hahaha… Perutku mual mendengarnya. Ada-ada saja kau ini”

“Tapi semua itu mungkin. Tinggal selangkah lagi, Bint. Bersiaplah!”

“Hahaha… Apakah kalau aku jadi selebritis nanti namaku bakal berubah ya…?”

“Maksud kamu?”

“Nama Bintang sepertinya terkesan kurang keren”

“Hahaha…. Biarpun namanya gak keren, kalau nyanyi bagus tetap saja jadi keren”

“Hahaha… Kau memang teman terbaikku, Bulan!”
---***---
Oke. Teman. Bukankah kata itu cukup menggambarkan perasaannya padaku? Hufh, tak rela rasanya mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Aku inginkan lebih ! Keegoisan seorang Bulan mulai tampak. Dan sifat egois itu muncul ketika hari-hari terakhir bersamanya sebelum dia pergi ke Ibu Kota untuk menemui produser. Kemanapun dirinya pergi, harus ada aku. Aku bertindak seolah-olah tak ada hari esok bersamanya. Dan, memang.

Minggu pagi distasiun kereta api. Rintik hujan mulai turun. Ini November kedua setelah pertemuan pertamaku dengannya. Stasiun terlihat sangat ramai oleh orang-orang yang datang dan pergi. Beberapa pedagang asongan terlihat setia menjaga dagangannya. Sementara aku gelisah. Dia bersikeras tak mau diantar, dan aku bersikeras mengantarnya. Entah kenapa, aku merasa dirinya tak kan pernah kembali. Akhirnya, aku memantapkan hatiku untuk mengungkapkan isi hatiku padanya.

“Hey,kenapa Bulan? Sedih ya… Hahaha… Semarang-Jakarta tak terlalu jauh seperti Semarang-Sumatra”

“Bukan itu Bintang….”jawabku lirih.

“Lantas, kenapa? Tak pantas wajah cantikmu tertutup mendung seperti ini.”

Aku tersenyum. Dan kembali terdiam, sebelum akhirnya…

“Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku….” Ku beranikan untuk bertanya padanya.

Suasana hening. Aku menunduk. Tak berani aku menatap wajah tampannya. Seketika ada perasaan menyesal menanyakan hal itu. Aku takut dia menilaiku terlalu agresif. Namun rasa ingin tahu ku yang besar menghapus penyesalan yang sempat hinggap. 

“Memang kenapa?” tanyanya kemudian.

“Aku….” Bibirku kembali terkunci, ada rasa takut dalam hatiku.

“Aku…. Kamu pasti tahu. Aku menyukaimu” jawabku akhirnya dengan pelan.

Suasana kembali hening. Tak ada reaksi apapun darinya. Tiba-tiba kereta yang akan membawanya diberitahukan segera berangkat. Ah, sialan! Pikirku. Lalu kedua tangannya memegang bahuku.

“Aku harus segera pergi. Akan aku kabari sesampaiku di Jakarta. Sampai ketemu lagi, Bulan” ujarnya pelan.

Hah? Hanya itu saja. Lalu bagaimana dengan pertanyaanku tadi.
Kereta akhirnya meninggalkan stasiun. Hujan yang tadinya rintik akhirnya menjadi deras. Tanpa sadar, air mataku mengalir. Entah karena kecewa atau sedih, aku tak tahu. Mengapa dia tidak menjawabnya? Atau memang benar sebenarnya dia hanya menganggapku sebagai teman? Akhirnya aku pulang dengan sejuta pertanyaan dibenakku.





---***---
Aku kembali menikmati secangkir moccacino hangat di sudut ruangan. Di ruang yang sama di café ini dimana aku melihatnya menyanyi. Dengan suasana yang tak berbeda ketika waktu itu, hujan rintik rintik. Di sudut inilah aku bisa melihat sosoknya dengan jelas. Disudut ini pula aku menikmati alunan nada melalui gitar yang dia mainkan dan suara merdu yang tak pernah aku lupakan. 

November kembali datang. Sudah setahun yang lalu sejak kepergiannya ke Jakarta. Sudah setahun yang lalu tak ada jawaban atas pertanyaanku. Sudah setahun yang lalu sejak dirinya berjanji untuk mengabariku. Sudah setahun yang lalu aku mencoba menghubungi, namun selalu gagal. Sudah setahun yang lalu kita seperti tak saling mengenal.
Hujan mulai deras. Aku kembali memesan cappuccino pada waitress yang sudah tak asing lagi. Aku pandang sekeliling. Tak ada yang berubah setahun maupun dua tahun yang lalu. Yang berubah hanya tidak ada Bintang disini. Itu saja.

Disuatu siang….
“Berikut adalah pendatang baru di balantika music Indonesia. Lagu yang berjudul “Andai Aku Bisa Mencintaimu” berhasil menjadi bubbling video minggu ini. Langsung saja kita saksikan video berikut!” terdengar suara seorang VJ dari televise rumahku.
Aku sibuk membolak balik majalah yang baru saja aku beli. Sayup-sayup terdengar suara penyanyi new comer itu. Suara penyanyi itu seperti tak asing ditelingaku, seperti suara….
“Bintang!” pekikku tak percaya.
Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Sosok yang selama ini menghilang, kini ada dilayar televise sebagai selebritis baru. Kau berhasil, Bintang…. Tanpa sadar aku tersenyum. Sejenak melupakan peristiwa yang pernah terjadi. Melupakan pertanyaan itu. Bintang berhasil.





---***---
Bintang menginjak pedal rem dalam-dalam. Sore itu hujan cukup deras mengguyur jalanan Ibukota. Dan dia terjebak dalam kemacetan. Didalam mobil sedan warna biru mengalun lagu November Rain. Lagu yang mengingatkan pada Bulan. Ada perasaan bersalah menyusup ke dalam hatinya, karena menghilang dari kehidupan gadis yang cukup baik yang dia kenal. Bintang tak bisa membayangkan bagaimana terlukanya gadis itu bila dia menjawab pertanyaannya setahun yang lalu. Tidak tega rasanya menyakiti gadis yang telah mempercayainya sepenuh hati.

“Ah..andaikan aku bisa mencintaimu, Bulan” ujar Bintang menggumam.
Digenggamnya tangan seseorang yang duduk disampingnya dengan erat. Seseorang yang dicintainya dengan sepenuh hati. Seseorang yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun, termasuk Bulan. Seseorang yang juga sangat mencintainya sepenuh hati.

“Sudahlah, Bint. Suatu hari nanti kau harus berterus terang pada Bulan” ujar seseorang itu.

“Ya, suatu hari nanti” kata Bintang.

“Aku mencintaimu. Kau tahu itu”

“Aku juga begitu, Randy” balas Bintang.

Lelaki itu kemudian semakin mengeratkan genggaman tanggannya pada Bintang.
Sore itu hujan semakin deras di Jakarta. Suatu hari nanti Bulan akan tahu keadaan Bintang yang sebenarnya. Semoga dia tidak kecewa. 

3 komentar:

AJe mengatakan...

cerpennya keren. ngapa ga di kirim ke mjalah ja?

Cyn Amore mengatakan...

insya allah klo dah siap... hehe

i'm mengatakan...

bagus... but too fast...

Posting Komentar

Copyright 2009 Kepingan Inspirasi. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates